Tindak Pundi, Mbah?

Tindak Pundi, Mbah?
Maskembarr

Sudah tidak enak rasanya ngundur-undur waktu. Seragam sekolah itu sudah berbulan-bulan tak anggurkan di lemari. Dulu aku bilang sama dia, “paling cuma dua minggu kok.” Ya, karena banyak hal mendadak dan genting yang tak terduga datangnya menjadikan pengerjaan melukis baju saya tersebut tiba-tiba terhenti.
Siang hari setelah salat jumat. Aku berencana membeli kuas untuk melanjutkan lukisan baju seragam. Sudah izin keamanan, sudah dapat pinjaman sepeda motor. Berangkatlah saya menuju toko alat lukis.
Toko alat tulis tujuanku itu berada di Sewon, Yogyakarta. Tepatnya di dalam gang kedua selatan gedung pyramid sewon. Di tengah perjalanan yang belum jauh—baru sampai perempatan jejeran—aku teringat Toko Alat Tulis Cahaya. Seingatku dulu di dalam toko itu ada kuas juga dari salah satu banyak barang yang di jual. Menyebranglah aku ke toko tersebut. Eh, ternyata tokonya tutup. Ya, sudah, ke sewon saja belinya. Aku lanjutkan perjalananku ke arah utara karena malas untuk putar balik. Tepat di gang selatan SPBU, aku belok kiri. Selang beberapa puluh meter ada nenek-nenek tua renta melambaikan tangan kepadaku. Aku berhenti di depannya.
“Ada apa nek? Ada yang bisa saya bantu kah?”
“Terminal”, katanya dengan sangat lirih.
“Apa nek?!”, tanyaku dengan suara yang agak keras di dekat telinganya—barangkali pendengarannya sudah berkurang banyak apabila aku lihat dari fisiknya yang sudah sangat tua.
“Giwangan”, katanya lagi juga dengan sangat lirih.
“Oo, nggih!!”
Mulanya aku bingung, mau aku antarkan dia ke terminal atau tidak. Namun setelah kupikir-pikir—karena sedang mengejar waktu—ah, antarkan sajalah, toh juga sebentar.
Aku mengantarkan nenek itu dengan pelan-pelan dan sangat hati-hati. Dia membonceng saya menghadap ke samping. Aku takut dia jatuh. Satu tanganku memegang setang kemudi dan satu tanganku yang lain memegang lutut nenek agar tidak jatuh ke kiri.
Di seiring perjalanan nenek itu ngomong terus tak henti-henti. Aku hanya menganggukkan kepala saja terus-menerus. Ya, bagaimana lagi. Mau menanggapi perkataannya juga tidak bisa karena suaranya sangat lirih dan kalah dengan suara bising kendaraan di jalanan. Sesampai di daerah Grojogan aku sedikit mendengar perkataannya yang lirih itu.
“Dolan”, begitu katanya yang aku dengar dengan sedikit ragu.
“Apa nek?!”, tanyaku kepada nenek memastikan apa yang aku dengar.
“Dolan”
“Apa nek?! Dolan?!”
“Hoo”
Dengan spontan karena kaget dan deg-degan aku langsung menghentikan sepeda motorku di pinggir jalan. Dan langsung aku pastikan ke mana sebenarnya nenek itu tujuannya.
“Ajeng dolan, mbah?!”
“Dolan”
“Hanggeh, ajeng dolan?!”
“Hoo, dolan.”
“Waduh, kulo selak ajeng ten rumah sakit, je, mbah”
“Dolan”, katanya lagi.
“Lha, nggih. Kulo niku selak ajeng ten rumah sakit.”
“Dugi mriki mawon nggih mbah?!”, terusku.
“Terke tekan terminal, Giwangan, lor bangjau.”
“Oo, nggih. Terus mangkih nek sampun, tak tinggal bali nggih mbah?!”
Aku lalu melanjutkan perjalanan menuju terminal Giwangan mengejar waktu untuk mendaras guna persiapan malam itu.
Selang beberapa saat. Ketika sampai di daerah Tamanan aku mendengar satu kalimat yang agak mengganjal dari banyak kalimat yang dikatakan nenek terus-menerus selama perjalanan.
“Nopo mbah?!”, tanyaku sambil memperhatikan jalan agar tidak menabrak sesuatu di jalan.
“Ngisor udel.”
“Nopo mbah?”
“Ngisor udel.”
“Nopo?! Ngisor udel?!”
“Hoo.”
“Ngisor udel e ngopo mbah?!”, tanyaku dengan keras dan nada tinggi.
Sebenarnya kenapa nenek ini. Kok terlihat agak nyeleneh dan agak nakal denganku. Aku deg-degan sekali, takut akan terjadi apa-apa. Jangan-jangan ini jebakan seseorang yang sedang mencari mangsa agar aku memperkosanya dan bisa menghajarku habis-habisan. Aku semakin bingung. Sebenarnya ini ada apa? Rasanya sangat aneh. Dadaku mak ser, rasanya mrinding seperti disiram air es. Seperti rasa takut yang sangat akut.
Setelah beberapa meter aku tanya lagi nenek itu.
“Enten nopo mbah?!”
“Ngisor udel.”
“Hanggih. Ngisor udel e enten nopo?!”
“Ngisor udel.”
Aku berhenti. Rambu lalu lintas selatan terminal menunjukkan warna merah. Waktu yang pas untuk kutegaskan lagi kepada nenek itu, masih mau numpang atau tidak, kok trasanya sudah sangat kelewatan sikapnya.
“Tak dunke kene lho, mbah!”
“Mboten! Mboten! Dukke lor bangjau mawon.”
Kalau bukan karena rasa kemanusiaanku yang masih tersisa untuk nenek itu tidak akan aku mau melanjutkan menolong mengantarkannya ke terminal.
Lampu rambu lalu lintas sudah berwarna hijau. Aku lanjutkan perjalanan dengan hati-hati. Jalanannya cukup ramai. Aku memegangi terus lutut nenek tersebut. Takut jatuh. Haduh. Bagaimana ini. Aku juga tidak memakai helm. Aku harus menyelinap di tengah-tengah kendaraan lain agar tidak terlihat polisi yang berada di kiri jalan.

#

“Sampun dugi, mbah.”
“Tulung aku golekno taksi. Kae.”, kata nenek sambil menunjuk mobil luxio berwarna putih yang berada di depanku sejauh dua puluh meter.
“Taksi, mbah?”, tanyaku memastikan.
“Tulung golekno ojek, mas.”, katanya yang masih naik di atas sepeda motor tidak mau turun.
Wah, bagaimana sih. Ojek apa taksi, jadinya. Membingungkan. Benar-benar sudah tua nenek ini.
Tak perlu bingung. Agar tidak membuang waktu aku carikan ojek saja.
“Tinggal wae mas!”, “Dukke kono wae mas!”, “Ra waras, kui”, “Sinting, kui.”, “Kui wong edan!”, teriak tiga orang bapak-bapak menatapku menyuruh meninggalkan nenek itu, salah seorang dari ketiga bapak itu menempelkan jari telunjuk kanannya agak miring di dahinya—memberi isyarat nenek itu sinting. Aku sangat kaget usai mengetahui itu.
Aku langsung menurunkan tas bawaan nenek itu yang sebesar tas belanja pasar pada umumnya yang berisikan penuh barang-barang pribadinya. Dan aku bujuk paksa nenek itu turun dari sepeda motor.
“Kulo padoske ojek riyen, nggih, mbah!”
“Jenengan tenggo mriki!”, kataku sambil melepaskan pegangan erat nenek di begel sepeda motorku.
Aku pergi dari depan terminal dengan cepat. Agak aku kebutkan sepeda motornya, agar tidak terkejar nenek-nenek itu. Ealah, cah, cah. Kataku menggerutu di dalam hati dengan kecewa. Namun, aku bingung harus merasa—marah, sedih, kecewa atau lucu dan tertawa—bagaimana.

Bantul, 14 september 2021

Kok Setengah-Setengah?

Kok Setengah-Setengah?

Maskembarr

“Jadi artinya apa? Artinya, kita sekarang benar-benar berada di dalam lautan ketidaktahuan.” Kurang lebih begitulah kata Cak Nun di dalam forum maiyahnya.

Mendengar hal itu, aku langsung setuju dengan itu. Perkataan Cak Nun benar-benar telah mewakili apa yang sedari dulu ingin kukatakan kepada orang-orang. Begitu masih banyak sekali orang-orang tak paham akan hal ini.
Sering sekali aku muak ketika melihat ataupun mendengar seseorang yang berada di lingkungan sekitarku menampakkan keangkuhan dan keistimewaan dirinya. Memang dia tahu tentang apa saja yang ada di dalam kehidupan ini? Berani-beraninya mereka memiliki sifat yang kalau dibilang layak untuk disebut menyaingi Allah. Mungkin bisa juga dikatakan musyrik. Ketika mereka melihat seseorang berkehidupan tidak sejalan dengan apa yang dia yakini dan anggap benar lantas ia membencinya dan menyinyirinya. Benar-benar budak nafsu dia itu. Merasa paling benar sendiri. Sebenarnya juga tidak salah kalau memang tujuan mereka itu ingin menolong orang lain agar tidak tersesat di jalan yang salah. Tapi, ya, mbokyo dengan cara yang baik. Jadi, didengar dan dirasakan di hati itu terasa enak dan nyaman. Toh, nanti juga akan dapat ganjaran tolong menolong juga. Kalau dengan cara yang tidak baik, lantas bagaimana kita menjawab pertanyaan Allah ketika kita ditanya “Kamu itu berbuat kebaikan atau menyakiti hati orang lain saat itu?”, ketika diperlihatkan rekaman-rekaman video Allah tentang perbuatan kita di dunia.
Al-Haqq artinya Yang Maha Benar. Dan Allah mustahil memiliki sifat salah. Muhammad adalah seorang rasul Allah. Beliau dikaruniai sebuah keistimewaan tidak pernah salah dalam paham dan katanya—begitu setahuku. Banyak orang yang merasa benar dan mustahil salah, lalu menjadi angkuh dengan itu, dengan alasan sanad keilmuannya sambung dengan nabi. Hal ini sangat membuat kepalaku panas. Ketika aku menemui orang-orang semacam itu, hati kecilku protes besar-besaran hingga pernah berencana demo bersama syaraf-syaraf dan ribuat otot yang ada di dalam diriku dengan menggerakkan tubuhku untuk mengamuk-amuk mereka. Bukankah pemahaman seseorang terhadap pemahaman orang lain itu tidak bisa dijamin kebenarannya. Ya, kalau memang benar-benar sanad itu sambungnya dari lisan ke lisan. Bagaimana kalau terselip ada satu dua dari orang yang ada di dalam tersebut hubungannya hanya lewat tulisan, karya tulis misal. Bukan kah yang bisa memahami maksud dari sebuah karya tulis hanyalah si penulis seorang?
Ya, maksud saya sambat seperti ini di dalam tulisanku ini, itu, kalau berbuat baik mbokyo sekalian yang sempurna. Jangan setengah-setengah. Kalau maksud perbuatannya baik, ya, jalan tempuh perbuatan itu juga dibuat baik sekalian saja. Yang lemah lembut, sopan dan beretika—entah kepada yang lebih tua maupun kepada yang lebih muda. Ya, karena semua yang diketahui para manusia hanyalah sebuah tebakan kebenaran yang diyakini kebenarannya oleh si pencetus kebenarannya tersebut dan orang-orang yang cocok dengan pemahaman tersebut.

Bantul, 09 September 2021

Danila Kelewatan

Danila Kelewatan
Maskembarr

Danila memang kelewatan
Dia melukaiku
Sekarang semuanya menjauhiku
Kemarin masih banyak yang mencari-cariku
Masih banyak yang mencintaiku
Masih sangat banyak yang ingin memilikiku
Tapi, sekarang
Mereka hilang
Semua ini,
terjadi setelah Danila memiliku
Di depan teman-temannya dia selalu angkuh
Dia selalu tampil di depan banyak orang
Menunjukkan bahwa dia sudah memilikiku
Merasa hanya dia yang bisa memiliku
Tidak yang lain
Hanya dia
Hingga semua itu merasuk di dalam pikiran mereka
Mereka benar-benar merasa tidak bisa memiliku
Dan tak jarang,
hal itu membuat mereka membenciku
Pikir mereka,
aku adalah keburukan
Keburukan yang tampak indah pada permukaan \
Yang membuat seorang manusia menjadi setan
Membuat semua orang yang bersamaku,
menjadi angkuh dan sombong
Sudah, cukup!!
Oiya, namaku Ilmu Pengetahuan

Bantul, 09 September 2021

Ya, maaf. Hehe

Di Fadlun Minalloh. Sebuah pondok pesantren yang berada di Dusun Wonokromo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

“Rapat?”

“Rapat!!! Fiks!”

Aku dan Faiz gegas berangkat rapat pengurus untuk keperluan masalah pendidikan Pondok Pesantren Fadlun Minalloh. Memang harus gesit, ini penting. Nanti malam ada khitobah. Dan itu yang akan dibahas siang ini. Pokoknya jangan sampai terjadi lagi hal yang seperti kemarin. Jam mulai acara khitobah, miss komunikasi. Jadwal latihan khitobahmiss komunikasi. Mau apa lagi yang miss

“Alhamdulillah, kafenya buka.”

“Dan, Sasa kafe. Ini sharelok-nya.” Aku  mengirimkan pesan whatsapp kepada Abdan.       

Sudah empat puluh menit aku dan Faiz menunggu di Kafe Sasa. Dimana mereka berempat? Kok lama sekali. Padahal kafe ini hanya sejauh tiga kilo meter dari pondok pesantren. Di dalam sebuah kampung di seda Wonokromo. Apa mereka tersesat? Ah, tidak. Tidak mungkin. Apakah mendadak ada dhawuh dari ndalem ataukah diiwanul quro’? Ah, masa sih. Oh, iya. Mungkin mereka belum mendapat roll stopkontak. Soalnya tadi aku minta tolong mereka agar bawa stopkontak supaya bisa sekalian ngecharge hp di majelis rapat.                     

Hoo. Rapopo kok, Wan. Rapopo! Gur tekan tamanan kokGur lor kono kok!Gur tekan Sayidan!” Marah Abdan kepadaku yang tiba-tiba datang setelah sekian lamanya menunggu.

Astaga Hahahaha. Aku langsung tertawa terbahak-bahak setelah tahu, Abdan bercerita kalau mereka berempat tersesat jauh sampai Sayidan, kota Yogyakarta. Dan ternyata semua itu karena ulahku. Aku salah mengirimkan lokasi kepada mereka. Bukannya salah. Sepertinya Google Maps-nya yang error. Hehe, ya maaf.

HAI, TAHUN YANG KALI INI (puisi)

HAI, TAHUN YANG KALI INI

Hai Tuhan
Selamat pagi
Mataharimu sudah hangat menyapaku
Udara dingin pagimu telah menyapaku, barusan
Ramah sekali dia
Burung-burungmu berkicau
Sangat indah, bersaut-sautan
Damai sekali aku mendengarnya

Di tahun yang kali ini
Aku sangat bersyukur
Masih bisa bernafas tanpa sesak
Masih sehat dan bugar

Berbeda dengan biasa
Kali ini aku benar-benar merasakannya
Kemenangannya sungguh terasa
Islam masih jaya di negara kami
Masih sangat banyak ngaji yang tak perlu bayar
Ilmu gratis diberikan secara tulus
Majelis ngaji gratisan sangat mudah ditemui
Ada dimana-mana
Tak apalah, kadang satu dua kali
Kutemukan ada islam yang mahal

Sungguh mulia, ya, para kiai-kiai itu
Begitu dermamawan
Tak mata duitan
Kami, di sini, yang islam
sangat merasa tentram dan bahagia
Kami saling dukung dan beri semangat
dalam perjalanan yang sama tujuan
Yakni menjadi abdimu yang mencintai dan dicintai

Aku juga sangat bersyukur
Hari ini, aku bisa berteduh
di sebuah ladang ribuan macam ilmu
Aku boleh memetik Ilmu sebanyak-banyaknya di sini
sepuasnya
Gratis, ya benar-benar gratis
Sama sekali tidak diperjualbelikan
Selama sebulan untuk biaya tinggal
Hanya seharga sebungkus rokok surya
Itupun untuk bayar listrik
Tak masuk kantong pak kiai

Hai Tuhan
Tolong, ya
Cintai para pak kiai
Mereka sangat mencintaimu
Mereka mencintamui dengan sangat mencintai kami
Aku pun juga
mencintaimu dan dia
Tolong, ya
Cintai mereka semua
Agar kita semua saling bercinta

Eh, maaf
Kebanyakan curhat
Tadi cuma mau bilang
Hai, Tuhan
Selamat tahun baru
Hai, para pak kiai
Selamat tahun baru
Tak lupa
Hai, bapak ibu
Selamat tahun baru

Could this be a surprise?

Salam kasih saya untuk dua bulan yang kali ini benar-benar menjadi bulan istimewa dengan perangainya di dalam hidup saya. Juli dan Agustus.

Akhir bulan Juli kemarin. Tanggal dua puluh sembilan.


Menjadi momentum yang mungkin bagi saya kelak akan menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan.
Awalnya saya mendengar bisik-bisik pelan dari mulut ke mulut tentang nama-nama yang masuk dalam radar target anggota kepengurusan pesantren. Saya sedikit mendengar nama-nama teman saya yang katanya di dalam bisik-bisik itu masuk dalam radar calon pengurus pesantren. Tapi, saya tidak. Nama-nama saya tidak ada di dalamnya. Saya tidak tersebutkan di dalam bisik-bisik itu. Yang artinya, kemungkinan saya tidak tertunjuk sebagai orang yang diberi amanah pengabdian itu.

Setelah mendengar itu. Ya, sudah. Tidak apa-apa. Toh juga, mungkin ini belum waktunya. Dan sepertinya saya juga belum siap atau malah akan terkagetkan dan jadi bingung kalau saya terpilih. Ah, apa. Terlalu sombong saja saya ini. Sok-sokan mau jadi pengurus orang lain. Padahal mengurus dapur hidup saya sendiri saja masih sangat tidak karuan.

“Dia, dia dan kamu jadi pengurus. Jadi PDI di komplek mahasiswa.” Kata si Muh di telinga saya, saat saya sedang ngobrol-ngobrol bersama teman-teman di aula tengah.

Hah!!! Saya sangat terbelalak kaget sekali di dalam hati saya. Saya kaget. Saya tidak percaya. Saya bingung. Saya bingung. Saya bingung. Masa yang seperti saya ini menjadi pengurus di bidang kepengurusan pendidikan dan ibadah. Saya benar-benar bingung. Apa yang harus saya lakukan besok? Apa yang harus saya lakukan? Di komplek mahasiswa. Apa dia barusan hanya bercanda dengan saya? Saya di sini bukan siapa-siapa. Saya hanya orang yang masih terhitung terlalu muda untuk mereka para santri mahasiswa. Yang mereka itu lebih dewasa jauh daripada saya. Yang tentunya juga lebih cerdas dan pandai daripada saya. Tidak tahu apa-apa. Saya di sini hanya santri yang sangat bodoh. Ngaji pun selalu malas-malasan. Sudah berkali-kali bertahun-tahun tinggal kelas melulu. Tidak memiliki apa-apa. Tidak memiliki kekuatan. Kekuatan untuk mengatur mereka. Untuk mengurus mereka. Untuk mengajak mereka. Bahkan kekuatan untuk menegakkan diri saya sendiri dalam berdiri pun saya selalu tidak berhasil. Saya kerap sekali tumbang. Lalu tumbang lagi. Lalu tumbang lagi. Saya seorang pecundang.

Hari ini saya masih kaget. Kaget, benar-benar kaget. Entah apa yang saya pikirkan. Sejak hari itu. Saat saya tahu mengenai hal ini. Hingga sekarang, saya tak bisa lepas dari pelamunan. Hidup saya selalu tegang. Selalu diam. Dan kosong. Karena kaget. Ya, hanya kaget. Sesuatu yang mengagetkan. Saya hanya kaget.

Atau. Ada yang saya curigakan di ruang terdalam hati saya. Saya curiga, ini adalah momen kaget. Sebab kebahagiaan yang teramat luar biasa yang belum pernah saya rasakan. Hingga saya sangat kaget dan surprised dan tidak sadarkan diri di dalam lamunan saya beberapa hari ini.

Apapun. Terimakasih Tuhan.
Dan satu lagi. Tolong beri saya kekuatan.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

MASKEMBARR
1 August 2021, Sun

Manusia Tak Tahu Diri

Kali ini bukan cerpen, opini, cermin maupun puisi. Melainkan sambatan dari seseorang yang sedang bingung.

Riko bersandar di sebuah tangga rumahnya setelah adzan asar berkumandang. Dia baru saja meninggalkan salat dzuhurnya.

Apakah kamu pernah merasakan apa yang saya rasakan pada saat ini. Setiap saat setiap waktu selalu cemas. Entah sudah seberapa besar kemarahan Tuhan kepada saya. Saya selalu mengemis kasih kepadanya. Saya selalu mengemis ampun darinya. Begitu goblok saya yang saat ini. Entah sejak kapan lekasnya aku lupa.
Sebenarnya apa yang saya rasakan ini?! Sebenarnya apa yang terjadi kepada saya?!
Tak terhitung sudah berapa banyak salat yang saya tinggalkan. Masih wajar kalau ada qodhonya. Masih mau melakukan walau menyepelekannya. Tapi, saya. Saya jarang sekali mau menqodhonya. Hanya satu dua kali. Ibarat angka masih bisa dihitung. Lantas yang lain bagaimana? Tidak saya qodho. Entah tidak atau hanya karena belum. Saya juga bingung. Bila menqodho juga sangat berat. Karena sangat banyak. Kalau tidak… Tapi saya ingin menqodhonya.
Memang benar-benar brengsek diriku ini. Pada kenyataannya sudah berkali-kali saya coba untuk menqodhonya. Namun, selalu saja ada alasan untuk menunda. Hanya satu dua kali yang berhasil.
Saya curiga. Apakah ini adalah akibat takaran saya yang keliru tentang hablu minalloh dan hablu minannas.
Untuk hablu minannas. Saya selalu mengusahakan itu. Saya selalu memantau akhlak saya. Saya selalu mengalahkan diri saya. Ingat. Ini hanya menurut penilaian saya terhadap diri saya sendiri. Jadi wajar, bila ada sedikit pembelaan terhadap diri sendiri yang muncul dan tidak saya sadari.
Saya selalu menginjak-injak diri saya. Saya selalu memaksa diri saya untuk selalu merasa sama sekali tidak berhak memiliki harga diri dan martabat. Karena, bagi saya. Martabat dan harga diri adalah salah satu alat setan untuk menggoda manusia agar manusia selalu tidak bisa mebedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Ya, begitulah. Karena manusia memiliki sifat aniyah yang sangat parah. Hanya kebanyakan. Tidak pada semua manusia.
Terkadang, saya juga curiga. Apakah ini adalah akibat roja’ saya yang takarannya tidak seimbang dengan takaran khouf saya.
Terkadang, saya juga curiga.

Begitulah tulisan yang ditinggalkannya. Lalu dibaca ibunya.

Sudah beberapa hari Riko meninggalkan rumahnya.

Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya. Nampaknya, surat itu belum rampung ditulisnya. Dan entah surat itu ditujukan untuk siapa. Entah untuk ibunya, orang tertentu ataupun tidak untuk siapapun.

Kebiasaan santri yang mencolok dari sudut pandang masyarakat

Malam ini saya jadi teringat kembali dengan sesuatu yang sangat berharga bagi saya. Saya teringat buah pikiran saya yang pernah terlahir di dalam perenungan saya.
Tadi saya di sebuah warung makan ayam geprek yang sekilas tatanan toko dan macam menu-menunya persis dengan warmindo. Tapi bukan warmindo. Itu adalah warung makan ayam geprek seperti yang tertera di spanduk yang letaknya kurang bisa terlihat di depan warungnya.
Di saat saya akan pulang ke pondok dari situ yang tadinya hanya ingin cari es untuk dingin-dingin tubuh ndilalahe diajak ngobrol oleh sang penjual. Hanya sebentar, tidak lama kok.
Tadinya saya saat berbicara dengan bapaknya itu, ya… hanya waton. Seperti ngomong dengan orang yang tidak kenal lalu saya mengakrabinya. Lalu singkat waktu, saat itu tiba-tiba bapaknya membuat obrolan dengan nyambung-nyambung pembicaraan. Ya, nanya nama siapa, sekolah mana, mau lanjut sekolah apa tidak dan sebagainya. Hingga topik obrolannya sampai tentang kakak-kakak saya. Nama saya juga ditafsiri, nama kakak saya juga. Katanya saya pendiam tapi kadang kalau saatnya perlu ngomong, ya ngomong. Juga pendiam tapi kalau sekali marah langsung kaya banteng. Hahaha
Katanya juga ridwan maulana itu menurut pengartian beliau adalah orang yang pendiam tapi diharapkan membawa pengayoman kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Kalau tidak salah begitu, saya sedikit lupa. Tidak apa-apa , itu juga bukan yang ingin saya sampaikan di sini.
Yang paling saya ingat di dalam seputar perbincangan kita tadi adalah ini. Saya tidak hafal kata-katanya bagaimana. Tapi intinya saya ingat. Intinya kalau jadi anak pesantren itu jadi orang yang empan papan. Bisa menempatkan diri di manapun. Seperti roti kong ghuan. Meskipun roti itu roti yang hampir sudah menjadi adat kebanyakan roti yang dibeli oleh umat muslim untuk dijadikan jamuan di bulan lebaran di rumah-rumah mereka, dan hampir bisa dikatakan itu adalah roti muslim. Tetapi roti itu tetap saja bisa masuk ke rumah siapa saja, entah itu rumahnya muslim atau si non muslim, atau yang biasanya disebut kafir oleh orang-orang. Jadi, intinya saya itu diweling istilahnya. Jangan jadi orang yang sombong dan suka menyalahkan orang lain. Biasanya, yang kerap menjadi penyakitnya anak-anak pesantren adalah selalu fanatik, membanggakan dan mempamer-pamerkan apa yang dia ketahui. Entah dengan lisan maupun dengan tindakan. Misal, ada orang yang baca al-quran tetapi tidak paham akan makna al-quran. Biasanya anak tersebut akan menyepelekannya. Entah dengan menghujatnya seperti, ah apa gunanya baca al-quran kalau tidak tahu artinya. Atau lain sebagainya, kalian bisa buat contoh-contoh sendiri.
Padahal, kan. Kalau ada orang yang mau baca al-quran saja, walaupun tidak mengetahui artinya, itu kan sudah istimewa kalau dibandingkan dengan orang-orang yang sama sekali tidak mau membaca al-quran, bahkan menyentuhnya saja tidak mau. Nah, berarti kan sudah lumayan. Kok malah dihujat. Bagaimana coba kalau karena dihujat dia malah putus asa untuk berbuat baik. Bagaimana kalau dia malah memiliki anggapan baru bahwa jadi orang yang baik itu tidak enak dan sebagainya. Kan malah jadi lebih parah. Dan saya juga memiliki anggapan lagi bahwa kalau jadi orang itu harus memiliki cara berpikir yang luas sudut pandangnya.
Dan saya ingat juga beliau berpesan kepada saya, kalau jadi orang itu jangan pethakilan.
Terimakasih pak, tapi maaf saya tadi tidak sempat nanya nama bapak siapa.
Sekali lagi terimakasih pak.
Wassalamu’alaikum warahmatullohi wabarakatuh

Kebiasaan sih ngga kenalan! Kenalan dulu sini!

Halo. Hai. Hi. Hihi.

Perkenalkan nama saya Ridwan Maulana.

Biasanya di panggil ‘wan’. Umur saya masih muda, delapan belas tahun lebih lima bulan. Saya, asli orang Sleman, D.I.Yogyakarta. Jadi… Saya Jawa.

Untuk perkenalan lebih mendetail lagi mungkin bisa via facebook, tweeter atau via instagram. Kalo whatsapp nanti dulu… Hehe

Facebook: Ridwan Maulana Tweeter : ridwanmona instagram: rdwn.em/maskembarr